CPM dan PERT

Pengertian CPM

CPM (Critical Path Method) merupakan suatu teknik analitis untuk perencanaan, penjadwalan dan pengendalian proyek dengan metode jalur kritis dengan taksiran tunggal untuk lama suatu aktifitas. CPM dikembangkan oleh The Du Pont Company yang bekerjasama dengan Remington Rand Univac, 1950 yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk mengurangi waktu pelaksanaan suatu proyek (Taha, 1993).

CPM mempunyai beberapa aturan, pertama sebelum aktifitas dimulai, maka seluruh aktifitas pendahulunya harus sudah selesai. Kedua anak panah berfungsi untuk menyatakan hubungan ketergantungan diantara aktifitas-aktifitas, sedang panjang dan arah panah tidak mempunyai arti (diabaikan) (Taha, 1993).

Arah perhitungan dalam CPM terbagi menjadi dua yaitu perhitungan maju dan perhitungan mundur. Perhitungan maju merupakan perhitungan waktu paling dini dari terjadinya setiap aktifitas mulai atau berakhir yang terdapat pada diagram lintasan suatu proyek. Perhitungan mundur yaitu perhitungan waktu paling lambat dari terjadinya setiap aktifitas mulai atau berakhir yang terdapat pada diagram lintasan suatu proyek (Taha, 1993).

Pengertian PERT

PERT adalah kependekan dari program Evaluation and Review Technique atau teknik menilai dan meninjau kembali program. Teknik ini dikembangkan oleh Navy Special Projects Office (biro proyek-proyek khusus angkatan laut amerika serikat) dalam kerjasama dengan Booz, Allen and Hamilton, suatu perusahaan konsultasi manajemen (Purnomo, 2004).

PERT (Project Evaluation and Review Technique) adalah teknik untuk mengasumsikan ketidakpastian lama waktu aktifitas yang digambarkan dengan probabilitas tertentu dan memerlukan tiga taksiran untuk satu lama aktifitas, yaitu waktu yang paling mungkin, waktu minimum dan waktu maksimum. Dikembangkan oleh Angkatan Laut AS dalam rangka penyempurnaan sistem peluru kendali polaris pada tahun 1958. Walaupun pada awalnya digunakan untuk mengevaluasi penjadwalan program penelitian dan pengembangan. Tetapi kini digunakan pula untuk mengukur dan mengendalikan kemajuan berbagai tipe proyek khusus lainnya. Seperti  program konstruksi, program komputer, rencana pemeliharaan dan pemasangan sistem komputer (Purnomo, 2004).

PERT menuntut penggunannya untuk mengasumsikan ketidakpastian lama waktu aktifitas. Taksiran waktunya disebut dengan taksiran optimis dan pesimis. Waktu optimis adalah waktu tersingkat yaitu apabila aktifitas itu berjalan sesuai dengan rencana, sedangkan waktu pesimis adalah waktu terlama dari suatu aktifitas (Taha, 1993).

PERT mempunyai beberapa tujuan, antara lain untuk menentukan probabilitas tercapainya batas waktu proyek, untuk menetapkan kegiatan mana yang merupakan bottlenecks sehingga dapat diketahui pada kegiatan mana kita harus bekerja keras agar jadwal terpenuhi, dan untuk mengevaluasi akibat dari perubahan-perubahan program, mengevaluasi akibat dari penyimpangan jadwal proyek (Taha, 1993).

Teknik PERT adalah suatu metode yang bertujuan untuk sebanyak mungkin mengurangi adanya penundaan, maupun gangguan dan konflik produksi mengkoordinasikan dan mensinkronisasikan berbagai bagian sebagai suatu keseluruhan pekerjaan dan selesainya proyek. Teknik ini memungkinkan dihasilkannya suatu pekerjaan yang terkendali dan teratur. PERT merupakan metode untuk menentukan jadwal dan anggaran dari sumber-sumber, sehingga suatu pekerjaan yang sudah ditentukan lebih dahulu bisa diselesaikan tepat pada waktunya. PERT merupakan suatu fasilitas komunikasi dalam hal bahwa PERT dapat melaporkan kepada manajer perkembangan yang terjadi baik yang bersifat menguntungkan maupun tidak. PERT dapat menjaga agar manajer mengetahui dan mendapat keterangan ini secara teratur. Lebih dari itu semua PERT merupakan suatu pendekatan yang baik sekali untuk mencapai penyelesaian proyek tepat pada waktunya (Gaspersz, 2000).

PERT maupun teknik manajemen yang lain tidak dapat memecahkan persoalan yang dihadapi oleh para manajer. Teknik ini membantu seorang manajer untuk menyadari masalah yang dihadapainya. Pemecahannya yang bersifat realistic serta kekuatan dan kelemahannya menilai semua faktor dan pertimbangan yang mempunyai hubungan dengan keputusan mereka. PERT tidak dapat menggantikan kecerdasan dan pengamatan serta pengalaman dan kebijaksanaanya seorang manajer, tetapi dapat menjadi pembantu dan alat yang sangat berarti dalam membuat keputusan (Gaspersz, 2000).

Manfaat CPM dan PERT

Manfaat dari CPM dan PERT, antara lain dapat mengoptimumkan efisiensi pelaksanaan proyek yang bersangkutan dan dapat dicapainya. Penurunan terbesar dalam waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek yang bersangkutan sambil tetap mempertahankan kelayakan ekonomi dari penggunaan sumber daya yang tersedia (Gaspersz, 2000).

Analisis proyek menggunakan CPM dan PERT, harus diasumsikan 3 sifat proyek, antara lain proyek terdiri atas aktifitas-aktifitas yang terdefinisi dengan jelas. Aktifitas bisa dimulai dan diakhiri tanpa tercampur dengan aktifitas lain, dan setiap aktifitas terkait dengan urutan pelaksanaan satu sama lain. CPM dan PERT merupakan metode yang berorientasi pada waktu,

dalam arti keduanya mengarah pada penentuan sejumlah jadwal, dimana penjadwalannya terdiri dari 3 tahap dasar yaitu perencanaan, penjadwalannya dan pengendalian (Gaspersz, 2000).

Persyaratan Urutan Pengerjaan

Berbagai kegiatan tidak dapat dimulai sebelum kegiatan-kegiatan lain diselesaikan, dan mungkin ada kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan secara bersamaan dan atau tidak saling bergantung. Konsep waktu dalam jaringan kerja dapat didefinisikan sebagai berikut (Purnomo, 2004).

ES (Earliest Start Time)

Waktu paling awal (tercepat) suatu kegiatan dapat dimulai, dengan memperhatikan waktu kegiatan yang diharapkan dan persyaratan urutan pengerjaan.

LS (Latest Start Time)

Waktu paling lambat untuk dapat memenuhi suatu kegiatan tanpa penundaan keseluruhan proyek yang tersedia.

EF (Earliest Finish Time)

Waktu paling awal suatu kegiatan dapat diselesaikan, atau sama dengan ES + waktu kegiatan yang diharapkan.

LF (Latest Finish Time)

Waktu paling lambat untuk dapat menyelesaikan suatu kegiatan tanpa penundaan dan penyelesaian proyek secara keseluruhan, atau sama dengan LS + waktu kegiatan yang diharapkan.

Diagram jaringan kerja, node (lingkaran) yang merupakan lambang dari suatu event dibagi atas tiga bagian dengan fungsi masing-masing sebagai berikut.

a  =  Ruang untuk nomor event.

b = Ruang untuk waktu paling cepat suatu kegiatan dapat diselesaiakan (EF).

c = Ruang untuk waktu paling lambat untuk dapat menyelesaikan suatu kegiatan tanpa penundaan (LF).

Pembuatan Diagram Jaringan Kerja

Diagram jaringan kerja mempunyai dua peranan, yakni pertama sebagai alat perencanaan proyek dan kedua sebagai ilustrasi secara grafik dari kegiatan-kegiatan suatu proyek. Suatu diagram jaringan kerja dapat dilihat gambaran hubungan antara komponen-komponen kegiatan secara menyeluruh dan operasi yang dijalankan sejak awal sampai berakhirnya suatu proyek. Konsep dan lambang atau simbol yang ada dalam diagram jaringan adalah sebagai berikut (Purnomo, 2004):

Events.

Suatu keadaan tertentu yang terjadi pada suatu saat tertentu, atau dapat pula diartikan sebagai awal atau akhir dari satu atau beberapa kegiatan. Events biasa dilambangkan dengan sebuah lingkaran atau node.

Aktivitas

Pekerjaan yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu kejadian tertentu. Kegiatan berlangsung dalam jangka waktu tertentu (duration) dengan pemakaian sejumlah sumber daya. Simbol yang digunakan adalah anak panah yang menghubungkan kedua lingkaran. Gambar di bawah menunjukan dua event yang dihubungkan dengan suatu aktivitas.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s