Line Balancing

Metode line balancing sebagai suatu teknik untuk menentukan product mix yang dapat dijalankan oleh suatu assembly line untuk memberikan fairly consistent flow of work melalui assembly line itu pada tingkat yang direncanakan (Gaspersz, 2000).

Line balancing sebagai suatu teknik untuk menentukan produk yang dapat dijalankan oleh suatu assembly line untuk suatu pendekatan yang menempatkan barang atau produk secara bersama pada serangkaian workstations yang digunakan dalam lingkungan kerja. Pengertian yang lain adalah sekelompok orang dan mesin yang melakukan tugas dalam merakit suatu produk, Sedangkan idle time adalah waktu dimana operator atau sumber-sumber daya seperti mesin, tidak menghasilkan produk, karena adanya perawatan (maintenance), kekurangan material, kekurangan perawatan (Subagyo, 1983).

Penyeimbangan lini harus dilakukan dengan metode yang tepat sehingga  menghasilkan keluaran berupa keseimbangan lini yang terbaik dan batasan yang  harus diperhatikan (Subagyo, 1983).

  • Diagram Precedence

Diagram precedence adalah suatu kegiatan terhadap kegiatan lain dalam hal ini mengenai hubungan antar kegiatan. Pemberian kerja kepada stasiun kerja harus memperhatikan apakah pekreja  tersebut ditempatkan pada stasiun kerja yang tepat sehingga tidak melanggar diagram presedence.

  • Waktu Siklus

Waktu siklus yaitu waktu  yang  di tempatkan kepada setiap stasiun  kerja  untuk mengetahui seluruh kegiatan yang diberikan kepada stasiun kerja tersebut. Jika waktu proses sebuah kerja melebihi waktu siklus, artinya dengan lintasan perakitan yang sekarang ada tidak dapat mencapai  tingkat  produksi  seperti  yang diharapkan.

Suatu pendekatan system manufacturing yang sejalan dengan konsep line balancing yang dipakai Jepang adalah Just In Time (JIT). Just In Time adalah suatu filosofi manajemen manufacturing yang mencakup sekumpulan prinsip, prosedur, dan teknik yang konsisten, dimana setiap tindakan dievaluasi dalam bentuk sasaran global dari system manufantur. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh manajemen untuk memperoleh layout flexibility adalah sebagai berikut (Gaspersz, 2000):

  1. Pelatihan silang atau cross training (pelatihan personel untuk melakukan berbagai tugas yang berbeda) bagi pekerja untuk menciptakan pekerja multi fungsi.
  2. Memelihara mesin dan peralatan agar berada dalam kondisi puncak melalui program total productive maintenance (TPM).
  3. Mempertahankan tingkat inventori minimum.
  4. Menempatkan stasiun kerja dalam jarak yang berdekatan dan saling bekerja sama.

Salah satu persyaratan umum yang harus digunakan dalam suatu keseimbangan lintasan produksi adalah dengan meminimumkan waktu menganggur (idle time) dan meminimumkan pula keseimbangan waktu senggang (balance delay). Sedangkan tujuan dari lintasan produksi yang seimbang adalah sebagai berikut (Gaspersz, 2000):

  1. Menyeimbangkan beban kerja yang dialokasikan pada setiap workstation sehingga setiap workstation selesai pada waktu yang seimbang dan mencegah terjadinya bottle neck. (bottle neck adalah suatu operasi yang membatasi output dan frekuensi produksi).
  2. Menjaga agar pelintasan perakitan tetap lancar dan berlangsung terus menerus.
  3. Meningkatkan efisiensi atau produktifitas.

Metode-metode Line Balancing

Metode penyelesaian persoalan dengan menggunakan line balancing, dikenal tiga metode, yaitu  Metode Heuristic, Metode Analitic dan Metode Simulasi. Berikut ini adalah penjelasan dari metode-metode diatas (Sly, 2007):

  • Metode Heuristic, yaitu suatu metode yang berdasarkan pengalaman (kualitatif), atau intuisi yang terdiri atas:
  • Largest candidate
  • Alarcu’s
  • Region approach atau Killbridge and Waster
  • Ranked Positional Weight atau Hegelson and Birne
  • Metode Analitic atau matematis, yaitu metode berdasarkan perhitungan kualitatif. yang termasuk metode ini adalah Branch and Bound.
  • Metode Simulasi yaitu metode yang berdasarkan pengalaman (kualitatif). Simulasi itu sendiri adalah duplikasi dari persoalan dalam kehidupan nyata kedalam metode matematika yang biasanya dilakukan dengan memakai komputer. Adapun yang termasuk kedalam metode simulasi adalah sebagai berikut (Subagyo, 1983):
  • COMSOAL (Computer Method Squercing Operation of Assembly Line)
  • CACB (Computer Assembly line or Aided Line Balancing)
  • ALBACA (Assembly Line Balancing An Control Activity)

Pemecahan Masalah Line Balancing

Line balancing biasanya digunakan untuk meminimalkan ketidakseimbangan diantaranya mesin agar memenuhi output yang diinginkan dari assembly line. Penyelesaian masalah line balancing, mengemukakan bahwa untuk mencapai keseimbangan lini dapat dilakukan berbagai cara diantaranya adalah (Buffa, 1987):

  1. Penumpukan Material.
  2. Pergerakan Operator.
  3. Pemecahan Elemen Kerja.
  4. Perbaikan Informasi Operator.

Informasi-informasi waktu yang dibutuhkan untuk susunan dan urutan dari berbagai tugas yang perlu dilakukan dalam setiap pemecahan masalah line balancing terdapat beberapa langkah-langkah penyelesaiannya, yaitu sebagai berikut (Buffa, 1987):

  • Mengidentifikasikan tugas-tugas individual atau aktifitas yang akan dilakukan.
  • Menentukan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap tugas.
  • Menentukan precedence constrains (Diagram Pendahuluan), jika ada yang berkaitan dengan setiap tugas tersebut.
  •  Menentukan output dari assembly line yang dibutuhkan.
  • Menentukan waktu total yang tersedia untuk memproduksi output tersebut.
  • Menghitung cycle time yang dibutuhkan berdasarkan rumus perhitungan:

  • Memberikan tugas kepada pekerja dan mesin
  • Menetapkan minimum banyaknya workstation yang dibutuhkan untuk memproduksi output yang diinginkan, rumus perhitungannya adalah:

  • Menilai aktifitas dan efisiensi dari solusi, dengan rumus perhitungan sebagai berikut:

Rumus diatas adalah rumus line balancing yang sering digunakan dalam perhitungan manual dan untuk diingat semakin besar nilai efisiensi, maka semakin baik penyelesaian produk itu (Buffa, 1987).

Suatu bagian filosofi JIT adalah lini produksi harus berproduksi pada tingkat yang sesuai dengan permintaan pasar, sehingga meminimumkan inventori dari produk akhir. Lini produksi yang digunakan berbentuk U (U-lines) sehingga tata letak menjadi kompak atau padat dan saling berdekatan. Penerapan JIT, harus dipehatikan fleksibilitas dalam tata letak agar perubahan dalam model produk dan tingkat produksi dapat dilakukan dengan mudah dan cepat (Gaspersz, 2000).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s